/Heum

Heum

LaznologyLaznology
••452 words

Sejak SD sampai SMP, aku emang ikut TPA dan belajar agama kayak anak-anak pada umumnya. Tapi setelah itu, sisa perjalananku murni otodidak, cuma modal curiosity atau butuh ada perkara real. Apalagi pas masuk masa SMP sampai awal SMK—di umur yang masih remaja banget—aku justru banyak mendapati luka emosional, sebut saja pelakunya society.

Aku jadi tahu terlalu banyak hal di usia segitu, dihadapkan sama realitas hidup yang ternyata begitu absurd. Ada kejadian-kejadian yang bikin mentalku semrawut. Bukan yang sedih nangis-nangis, tapi menurutku lebih parah dari itu: mati rasa. Apatis total. Apa-apa tidak ada rasanya.

Waktu di fase itu, aku sering nanya ke Ibuku, "Kenapa sih orang-orang begini? Kenapa gitu?" Dan jawaban Ibuku itu selalu santai dan nerimo, ala-ala filosofi Stoik ngono kae lah. Dan malahan entah gimana otak saya malah mencoba mengerti kenapa mereka begitu.

Sakit sih, tapi—nggak, aku nggak membenci masyarakat. Tapi aku berharap masyarakat memiliki kedewasaan dalam habluminannas. Karena hal ini mungkin saya jadi tidak bisa dapet "Soal ngerasain kehadiran Allah SWT di hati..." di awal tadi.

Tapi anehnya... titik balikku... wait entry point lebih pas sepertinya — justru datang dari hal yang simpel.

Waktu itu aku lagi di jalan, terus nggak sengaja merhatiin ranting pohon, pohon Talok waktu itu. Rantingnya kan keliatan acak dan berantakan banget ye kan? But idk why, sekilas mataku nangkep ada pola di sana. Aku penasaran, akhirnya iseng googling dan nonton video YouTube. Dari situ aku nemu yang namanya Pola Fraktal—pola geometri yang bentuknya selalu berulang dan serupa pada skala ukuran sekecil atau sebesar apa pun. Bahkan Benoit Mandelbrot bilang "Ada keteraturan dalam kekacauan".

Terus merembet baca soal sarang lebah, kenapa bentuknya heksagon? Ternyata lebah secara insting udah menerapkan apa yang di dunia matematika disebut Honeycomb Conjecture—sebuah teorema yang menyatakan bahwa heksagon adalah bentuk paling optimal untuk membagi ruang. Lebah jelas lebih unggul daripada pejabat yang korup dalam hal pengadaan. Waktu aku paham penjelasan ilmiahnya... sumpah, ada rasa kagum yang meledak, dan lebih kaget lagi soal lebah tadi ternyata ada di Q.S An-Nahl 65-69.

Terus aku mikir, kok aku iso se-penasaran kui karo ranting pohon?

Mungkin dari sini. Dulu banget, pas pulang dari masjid habis maghrib, Bapak pernah ngajak aku lihat daun pisang. Pertanyaannya simpel banget dan masih inget banget: "Dhan, delok kae godong pisang e, kok iso dadi werno kuning, ning endi werno ijo ne, seko endi werno kuning e".

Dan di momen aku sadar soal pola fraktal dan heksagon itu, aku akhirnya nemu jawabanku sendiri. Aku mungkin nggak nemuin Tuhan lewat perasaan emosional yang tiba-tiba turun ke dada kayak kebanyakan orang, yang aku sendiri jika melihat itu merasa iri kadang "Kali-kali kasih kesempatan begitu Ya Allah". Tapi aku menemukan potongan kecilnya di design ciptaannya.