Menjadi Majikan dan Budak bagi Diri Sendiri: Refleksi Masyarakat Burnout
Table of Contents
Disclaimer Tulisan ini murni sebuah refleksi dan pengamatan atas fenomena kelelahan kolektif yang kita alami sehari-hari. Tidak ada sedikit pun maksud untuk mengerdilkan nilai kerja keras, meremehkan ambisi pribadi, atau menghakimi mereka yang sedang berjuang menata hidup. Ini adalah upaya untuk membaca bagaimana tuntutan zaman tanpa sadar mendikte cara kita merespons batas-batas kemanusiaan kita sendiri.
Yang Berlari Tanpa Dikejar
Aku pernah bertemu seseorang yang berlari begitu lama, sampai ia lupa bagaimana rasanya berdiri diam.
Ia tidak berlari dari apa-apa. Tidak ada yang mengejarnya. Justru itu yang aneh: ia berlari sendirian, mengejar bayangannya sendiri yang terus ia buat lebih jauh, lebih tinggi, lebih cepat dari kemarin. Setiap kali bayangan itu tersusul, ia menciptakan bayangan baru, sedikit lebih jauh lagi, supaya larinya tak pernah selesai.
Orang-orang dewasa menyebut ini kemajuan. Mereka bangga menunjukkan berapa banyak yang sudah ia capai, seolah manusia adalah lentera yang harus terus dinyalakan lebih terang, tanpa pernah ditanya apakah ia masih punya cukup minyak untuk malam nanti.
Aku bertanya padanya, "Siapa yang menyuruhmu berlari?"
Ia terdiam lama sekali, sampai aku hampir mengira ia tak akan menjawab. Lalu ia berkata, pelan, seperti mengaku sesuatu yang memalukan, "Tidak ada. Aku menyuruh diriku sendiri. Dan karena aku sendiri yang menyuruh, aku tak pernah berani berhenti. Rasanya seperti mengkhianati diri sendiri kalau aku diam."
Begitulah cara paling sunyi untuk terjebak: menjadi penjaga bagi dirimu sendiri, sekaligus tahanan yang kau jaga.
Rusa yang Tak Pernah Benar-Benar Makan
Aku melihatnya makan sambil membalas pesan, berjalan sambil mendengarkan berita, memejamkan mata sambil menyusun daftar esok hari. Ia menyebutnya cekatan. Aku menyebutnya sesuatu yang lain: seekor rusa di padang terbuka, yang harus mengunyah rumput sambil terus mengawasi arah angin, karena bahaya bisa datang dari segala penjuru. Rusa itu tak pernah benar-benar makan. Ia hanya bertahan hidup sambil mengunyah.
"Kenapa kamu tidak berhenti sebentar saja?" tanyaku.
"Berhenti membuatku takut," katanya. "Kalau aku diam, aku harus mendengar sesuatu yang selama ini aku hindari."
"Apa itu?"
Ia menunduk. "Pertanyaan tentang untuk apa semua ini."
Kolam yang Tak Diaduk
Suatu sore aku mengajaknya duduk di tepi sebuah kolam kecil yang tidak menuju ke mana-mana. Airnya tenang karena tak seorang pun mengaduknya.
"Air ini kelihatan membosankan," katanya, gelisah, seperti ingin segera pergi.
"Coba tunggu," kataku. "Jangan lempar apa-apa ke sana dulu."
Kami duduk lama sekali. Tidak melakukan apa-apa. Tidak memikirkan apa-apa yang perlu diselesaikan. Mula-mula ia gelisah, jarinya mencari-cari sesuatu untuk dipegang. Tapi pelan-pelan, kegelisahan itu mereda, dan dari dalam kediamannya sendiri, muncul sesuatu yang sudah lama tak ia dengar: suaranya sendiri, yang bukan daftar tugas, bukan target, hanya suara yang sekadar ingin ada.
"Kenapa aku baru sadar sekarang," katanya, "kalau selama ini aku terus mengisi setiap celah waktu, supaya aku tak pernah harus mendengar suara itu?"
"Karena dari sanalah semua hal baru sebenarnya lahir," jawabku. "Bukan dari yang kau kejar. Dari yang kau biarkan datang, ketika kau berhenti mengejar."
Dua Jenis Lelah
Sebelum ia pergi, aku bercerita satu hal terakhir kepadanya, tentang dua jenis lelah yang tidak sama.
Ada lelah yang membuat seseorang makin mengunci diri, curiga pada dunia, merasa harus menanggung semuanya sendirian sampai habis. Lelah semacam ini membuat orang berjarak dari sesamanya, karena setiap orang sibuk memikul cambuknya masing-masing.
Tapi ada lelah lain, yang datang bukan dari kalah, melainkan dari cukup. Lelah yang melunakkan batas antara kau dan orang di sebelahmu, sampai kau berani mempercayakan sedikit bebanmu pada dunia, dan dunia, anehnya, sanggup menampungnya. Lelah semacam ini bukan tanda kau kehabisan diri. Ia tanda kau sedang pulang.
"Bagaimana aku tahu aku sedang mengalami lelah yang mana?" tanyanya.
"Yang pertama membuatmu ingin lari lebih jauh lagi. Yang kedua membuatmu ingin duduk, dan mengizinkan seseorang duduk di sebelahmu."
Yang Pulang
Ia pulang sore itu tanpa daftar baru untuk esok hari. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia berjalan bukan menuju sesuatu, hanya berjalan.
Aku masih memikirkannya sampai sekarang. Bukan tentang apa yang berhasil ia capai. Tapi tentang caranya, untuk sekali itu, berani menaruh cambuknya di tepi kolam, dan membiarkan dirinya diam cukup lama sampai suara aslinya kembali terdengar.
Mungkin begitulah caranya. Bukan berlari lebih cepat dari kelelahan. Melainkan berhenti cukup lama, sampai kelelahan itu sendiri berubah bentuk, dari sesuatu yang mengunci menjadi sesuatu yang memulangkan.
Referensi
Han, B.-C. (2015). The burnout society. Stanford University Press.